Ketika tahun lalu memulai penelitian di pete-pete sebenarnya saya bahkan tidak tahu mau meneliti pete-pete dari bagian mananya. Tapi yang saya tahu adalah bahwa saya ingin menceritakan sesuatu tentang transportasi umum yang namanya khas itu.

Alasannya? Mungkin karena saat sekolah dulu saya tidak pernah melewatkan satu hari tanpa naik pete-pete. Dan itu adalah pengalaman yang saya sadari belakangan ternyata mengesankan, sebab pete-pete seperti representasi kecil dari masyarakat di Kota Makassar. Ada-ada saja manusia yang bisa kita temui di dalamnya. Mulai dari pekerja, anak sekolah, mahasiswa, ibu rumah tangga, bahkan penghipnotis. Kita tidak bisa memilih siapa, semua betul-betul acak. Namun di situlah bagian serunya.

_

Ketika tiga tahun belakangan ini saya sudah mulai berhenti berkendara dengan pete-pete, saya sadar ada ritme yang berubah di kehidupan saya. Entahlah. Saya sudah pernah menjelaskan ini pada postingan blog saya yang lain. Tapi pengaruh berpindahnya alat transportasi untuk kemana-mana ternyata cukup berdampak besar. Kalau dulu saya harus memikirkan waktu sekian untuk jarak segini, melihat rute, dan menghitung uang ketika berkendara dengan pete-pete, kini saya tidak begitu perlu. Bagi orang-orang itu mungkin hal yang lebih baik, saya sepakat sebenarnya. Tapi karena saya bisa menempuh jalanan dengan kecepatan yang saya inginkan, pelan-pelan saya mulai mengabaikan makna dari waktu itu. Kecepatan menjadi sebuah hal yang pasti dan segalanya tiba-tiba terasa begitu memburu.

Kalau dulu saya bisa menikmati perpindahan tempat dengan membaca buku, mendengarkan lagu, atau bahkan tidur, sekarang yang ada di pikiran saya adalah jalur apa yang harus saya lalui agar tidak kena macet. Waktu di pete-pete saya tidak bisa menentukan jalur seenaknya karena pete-pete punya jalurnya masing-masing, jadi kalau macet ya pasrah saja. Kalau tidak ingin macet ya berangkat subuh. Ada sesuatu yang harus kau berani terima begitu saja ketika berada di sesuatu yang sudah punya kepastiannya.

_

Sebenarnya yang membuat saya suka adalah jeda yang disediakan ketika menaiki transportasi umum. Saya suka menatap jendela besar sambil memangku tangan dan menatap orang-orang di jalanan, saya suka punya waktu untuk membaca sisa halaman pada akhir bab di satu buku yang belum saya selesaikan malamnya, saya suka menghitung jarak tempuh dengan berapa lagu yang bisa saya habiskan untuk sampai di tujuan, dan saya suka melihat berbagai orang asing yang bisa saya temui di dalam satu tempat yang kecil itu.

Bagi saya angkot atau pete-pete menjadi unik karena tiba-tiba kau bisa berjarak begitu dekat dengan orang yang bahkan berbeda jauh latar belakang dengan dirimu. Dan kadang ada orang-orang yang menjadi akrab begitu saja hanya karena menanyakan “nanti turun dimana?”. Itu salah satu hal untuk menyatakan bahwa di kota ini sebenarnya tidak begitu sulit menemukan seorang teman.

Sisa-sisa pengalaman dan rasa yang baru saya sadari itulah yang menemani saya untuk meneliti tentang pete-pete dengan memakai fotografi. Bukan sesuatu yang luar biasa memang karena saya hanya seperti menulis diary dan menaruhnya bersama foto-foto. Ini hanya kegiatan bernostalgia sekaligus mencari jawaban apakah ruang yang saya namakan spasi itu boleh saya dapatkan di tempat lain juga?

_

Kadang saya sepakat bahwa kita mampu melihat nilai dari sesuatu ketika sesuatu itu tidak lagi berada di kehidupan kita. Membiarkannya berjarak bisa membuat kita melihat sesuatu itu secara lebih luas lagi. Mungkin.

Ketika saya mencoba melihat kembali pengalaman-pengalaman itu, saya sadar bahwa hari-hari itu saya punya jeda yang cukup untuk memikirkan hal-hal sederhana yang memiliki banyak makna di kehidupan saya. Saat dunia begitu cepat berlari.

Tapi apakah saya bisa tetap mengalaminya kembali walaupun sudah tidak berada di sana?

Makassar, 2019

P.s : Hasil penelitian ini akan bergabung bersama penelitian lainnya dalam bentuk buku dan akan segera terbit! pantau terus instagram @kampungbuku atau @tanahindie. Dan Jangan lupa dibeli! #ternyatajualan